Sabtu, 28 April 2012

4.9. Proses sosialisasi praktek

9. Proses sosialisasi praktek

A. proses sosialisasi praktek
Sosialisasi adalah suatu proses ketika seorang anak belajar untuk menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Yang dipelajari dalam proses sosialisasi adalah peran, nilai dan norma sosial. Pembentukan diri seseorang terjadi melalui proses pengambilan peran melalui tiga tahap pengembangan yaitu play stage, game stage, dan generalize other.
Dalam sosiologi kepribadian merupakan produk sosial, oleh karena itu sosiologi dijadikan faktor pembentukan kepribadian dan tidak cenderung melihat faktor warisan biologis dan lingkungan fisik.

B. karier yang efektif
Untuk menata karir dengan sukses, orang memakai berbagai cara. Ada yang menatanya melalui kerja keras, lewat jenjang pendidikan, mulai dari bawah, kejujuran, dedikasi, loyalitas, keterampilan, tanggung jawab, dan sebagainya. Yang jelas, sukses dalam berkarir bukanlah suatu kebetulan, pasti ada yang melatarbelakanginya.
Berikut ini adalah beberapa syarat menata karir yang efektif.
1. Vision (visi)
Visi adalah seni untuk melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan mata (vision is the art of seeing thing invisible). Sesuatu di sini bisa berupa prediksi-prediksi peluang organisasi untuk dijadikan halauan, gol, sasaran organisasi sehingga memudahkan untuk menentukan strategi organisasi yang tepat, membuat perencanaan dan mengimplementasikan dalam kegiatan organisasi. Penentuan visi menjadi tugas dan tanggung jawab top manajemen. Jadi, bila Anda ingin menata karir menuju top manajemen, berarti Anda harus memiliki visi.
2. Balance (keseimbangan)
· Nilai keseimbangan dalam segala hal, diperlukan. Bila Anda tidak mengontrol keseimbangan dalam kegiatan, akan menimbulkan kegagalan, penyimpangan, kekecewaan dan sebagainya. Sebagai contoh, keuntungan seimbang dengan modalnya, sedangkan keinginan dengan usahanya, cita-cita dengan kemampuan, begitu pula hasil dengan pengorbanan, dan sebagainya.
· Arti lain dari balance adalah adil. Adil merupakan salah satu karakter pemimpin. Bila tidak bisa berbuat adil, Anda tidak akan meraih reputasi dan dukungan dari anggota organisasi.
3. Energy (energi)
· Energi adalah kapasitas diri kita untuk melakukan suatu tindakan yang diperkuat oleh niat yang besar. Kapasitas tenaga, talenta, daya pikir, keterampilan merupakan sesuatu yang harus dimiliki bila kita ingin menata karir kita sampai batas akhir/puncak.
· Kinerja seorang tenaga karir akan dinilai dari tinggi rendahnya produktivitas yang dipengaruhi oleh kapasitas tenaga (kuantitas hasil, talenta, dan daya pikir). Sedangkan kapasitas keterampilan dilihat dari satuan kecepatan dan kualitas.


Nama : Ryan Ramanda P
Kelas : 2 KA 29
NPM : 19110712

4.8. Evaluasi Prestasi


8. Evaluasi Prestasi

Prestasi kerja dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan. Ukuran terakhir keberhasilan dari suatu departemen personalia adalah prestasi kerja. Karena baik departemen itu sendiri maupun karyawan memerlukan umpan balik atas upayanya masing-masing, maka prestasi kerja dari setiap karyawan perlu dinilai. Penilaian prestasi kerja adalah proses dimana suatu organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan. Kegiatan ini dapat memperbaiki keputusan personalia.

Penilaian prestasi kerja sangat diperlukan baik oleh perusahaan maupun karyawan, karena penilaian prestasi kerja tersebut memiliki berbagai manfaat yaitu :
  1. Perbaikan prestasi kerja : memberikan umpan balik yang memungkinkan bagi karyawan, manajer, dan departemen personalia dalam pelaksanaan kerja guna memperbaiki kegiatan-kegiatan yang telah mereka lakukan untuk memperoleh prestasi yang tinggi.
  2. Penyesuaian-penyesuaian kompensasi : penilaian prestasi kerja dapat memberikan informasi terhadap perbaikan kerja dan produktivitas karyawan. Guna membantu para pengambil keputusan dalam menentukan kenaikan upah, pemberian bonus dan bentuk kompensasi yang lain.
  3. Keputusan-keputusan penempatan : evaluasi prestasi kerja dapat membantu pengambil keputusan untuk kepentingan promosi, transfer dan demo karyawan yang pada umumnya didasarkan pada prestasi kerja di masa lalu. Promosi merupakan bentuk penghargaan terhadap prestasi kerja di masa lalu.
  4. Perencanaan dan pengembangan karier : dengan adanya penilaian prestasi kerja maka akan menghasilkan suatu informasi tentang potensi dan keahlian karyawan sehingga mengarahkan keputusan-keputusan karier.
  5. Penyimpangan-penyimpangan proses staffing : prestasi kerja yang baik atau jelek akan mencerminkan kekuatan dan kelemahan prosedur staffing departemen personalia.
  6. Kesalahan-kesalahan desain pekerjaan : prestasi kerja yang jelek merupakan suatu tanda adanya kesalahan dalam desain pekerjaan. Penilaian prestasi akan membantu di dalam diagnosa kesalahan-kesalahan tersebut.
Pada umumnya penilai adalah atasan langsung dari orang yang harus dinilai. Alasan mengapa atasan langsung sering ditempatkan pada nomor pertama orang yang memberikan penilaian adalah karena atasan langsung sering berhubungan sehingga dialah yang paling mengenal kerja karyawan tersebut. Penilaian prestasi kerja pada dasarnya mempunyai dua kepentingan yaitu bagi perusahaan dan pegawai. Bagi pegawai dimaksudkan untuk memberi motivasi dalam peningkatan prestasi kerja, sedangkan bagi organisasi hasil penilaian prestasi kerja pada pegawai sangat penting peranannya dalam pengambilan keputusan.

Dalam teknik pengukuran dan evaluasi prestasi diantaranya adalah anggaran. Anggaran merupakan alat yang penting untuk merencanakan jangka pendek dan pengendalian operasi. Penyusunan anggaran merupakan bagian penting dari siklus perencanaan dan pengendalian manajemen. Perancanaan yaitu menentukan tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan untuk merealisasikan tujuan tertentu, sedangkan pengendalian yaitu menilai apa yang telah dihasilkan dan membandingkannya dengan rencana yang telah disusun.


Nama : Ryan Ramanda P
Kelas : 2 KA 29
NPM : 19110712

4.7. Pengambilan Keputusan dengan Teknik Delphi

7. Pengambilan Keputusan dengan Teknik Delphi

Teknik atau proses Delphi, pertama kali dikembangkan oleh N. C. Dalkey, Helmer, dan rekan pada tahun 1950an dan 1960an dalam Rand Corporation, yang pada saat sekarang terkenal sebagai suatu teknik untuk membantu pengambilan keputusan-keputusan yang mengandung risiko dan ketidakpastian, misal forecasting jangka panjang.

Teknik Delphi termasuk ke dalam teknik pengambilan keputusan modern yang merangsang kreativitas dengan menggunakan pertimbangan berdasarkan gagasan orang lain untuk mencapai Konsensus dalam pengambilan keputusan kelompok. Teknik ini juga merupakan salah satu teknik peran serta dalam pengambilan keputusan stratejik.


Teknik Delphi yang didasarkan pada sebuah proses ter-struktur untuk mengumpulkan dan  membawa pengetahuan dari sekelompok ahli dengan cara serangkaian kuesioner maupun yang di-kontrol dengan pendapat umpan balik (Adler dan Ziglio, 1996). Menurut Helmer  (1977) Delphi merupakan perangkat komunikasi yang berguna di antara sekelompok ahli sehingga memudahkan pembentukan kelompok itu.

Teknik Delphi merupakan latihan dalam kelompok komunikasi antara panel secara geografis ahli (Adler dan Ziglio, 1996) yang memungkinkan para ahli teknik sistematis untuk menangani masalah kompleks dengan suatu tugas. Inti dari teknik ini cukup mudah, yaitu terdiri dari serangkaian kuesioner dikirim baik lewat mail atau melalui sistem komputerisasi, untuk pra-ahli yang dipilih grup. Kuesioner ini dirancang untuk mendapat tanggapan dan pengembangan individu sebagai cara untuk menimbulkan masalah yang nantinya akan diperbaiki oleh pra-ahli.

Partisipan untuk teknik Delphi tidak saling kenal satu sama lain. Biasanya secara fisik berjauhan dan tidak saling bertemu. Semua komunikasi antar partisipan dengan cara kuesioner dan umpan balik dari pemantau seorang Staf.

SUMBER : http://richmondtraytor.blogspot.com/2010/11/pengambilan-keputusan-dengan-teknik.html

Nama : Ryan Ramanda P
Kelas : 2 KA 29
NPM : 19110712

4.6. Proses Pengambilan Keputusan

6. Proses Pengambilan Keputusan
Berdasarkan kondisi dan situasi pengambilan keputusan yang ada, keputusan dapat  diklasifikasikan sebagai berikut:
§   Keputusan-keputusan yang diprogramkan (programmed decision)
adalah keputusan yang dibuat menurut kebiasaan, aturan atau prosedur. Keputusan ini rutin dan berulang-ulang. Misalnya keputusan pemilihan pemasok bahan baku adalah melalui aturan dan prosedur yang tetap.
§   Keputusan-keputusan yang tidak diprogramkan (non-programmed decision)
adalah keputusan yang berkenaan dengan masalah-masalah khusus, khas atau tidak biasa. Bila masalah tidak cukup diatasi dengan kebijaksanaan maka masalah tersebut harus dselesaikan malalui keputusan yang tidak diprogramkan. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam hirarkhi organisasi, maka ia akan semakin tinggi tuntutan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah dengan pebuatan keputusan yang tidak diprogramkan.

Herbert A. Simon mengemukakan teknik-teknik tradisional dan modern dalam pengambilan keputusan-keputusan yang diprogramkan dan yang tidak diprogramkan (dalam Handoko, 1984: 132):

Tipe-tipe Keputusan
Teknik Pembuatan Keputusan
Tradisional
Moderen
Diprogram:
Keputusan-keputusan rutin dan berulang-ulang. Organisasi mengembangkan proses-proses khusus bagi penanganannya.
1.        Kebiasaan.
2.        Kegiatan rutin: Prosedur-prosedur pengoperasian standar.
3.        Struktur organisasi Pengharapan umum Sistem tujuan Saluran-saluran informasi yg disusun dengan baik.
1.      Teknik-teknik riset Operasi:
Analisis matematik
Model simulasi komputer.
2.      Pengolahan data elektronik.
Tidak diprogram:
Keputusan-keputusan sekali pakai, disusun tidak sehat, kebijaksanaan. Ditangani dengan proses pemecahan masalah umum.
1.      Kebijakan intuisi, dan kreatifitas.
2.      Coba-coba
3.      Seleksi dan latihan para pelaksana
Teknik pemecahan yg Diterapkan pada:
a.          Latihan membuat keputusan.
b.         Penyusunan program program komputer.
Tabel : Teknil-teknik Pembuatan Keputusan Tradisional dan Moderen


Nama : Ryan Ramanda P
Kelas : 2 KA 29
NPM : 19110712